Showing posts with label Resonansi. Show all posts
Showing posts with label Resonansi. Show all posts

TIGA MACAM NAFSU MANUSIA MENURUT ALQUR'AN

1:13 AM |

Alquran telah membagi tiga tingkatan nafsu manusia:

1. Nafs Ammarah
Sumber pertama yang merupakan pangkal dan daripadanya tim¬bul semua keadaan thobi’i (Keadaan alamiah) manusia, Alquran Suci menamakan-nya nafs ammarah, seba¬gaimana dikatakan-Nya:
“…Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kepada kejahatan..” (Q.S 12:53)
Yakni, adalah ciri khas nafs ammarah bahwa ia membawa manusia kepada keburukan yang bertentangan dengan kesempurnaannya serta bertolak belakang dari keadaan akhlaknya dan ia menginginkan manusia supaya berjalan pada jalan yang tidak baik dan buruk.

Ringkasnya, melangkahnya manusia ke arah pelanggaran dan keburuk¬an adalah suatu keadaan yang secara alami menguasai dirinya, sebelum ia mencapai keadaan akhlaki. Sebelum manusia melangkah dengan dinaungi oleh akal dan makrifat (pengetahuan), keadaan ini dinamai keadaan thobi’i (pembawaan alami). Bahkan seperti halnya hewan-hewan berkaki empat, di dalam kebiasaan mereka makan minum, tidur bangun, menunjukkan emosi dan naik darah, dan begitu juga kebiasaan kebiasaan lainnya, manusia ikut kepada dorongan thobi’inya. Dan manakala manusia tunduk kepada akal dan makrifat serta memperhatikan timbang rasa, maka saat itu keadaan ketiga tersebut tidak lagi dinamakan keadaan-keadaan thobi’i, melainkan saat itu keadaan-keadaan ini disebut keadaan-keadaan akhlaki, yang mengenainya akan diterangkan lebih lanjut.

2. Nafs Lawwamah
Keadaan kedua, yaitu Tingkatan akhlaki yang dalam Al-Qur’an dinamai nafs lawwamah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala di dalam Alquran Suci:
“Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri. (Q.S 75:2)”
Yakni, nafs (jiwa) yang menyesali dirinya sendiri atas perbuatan buruk dan setiap pelanggarannya. Nafs lawwamah ini merupakan sumber kedua bagi keadaan keada¬an manusia yang daripadanya timbul keadaan akhlaki; dan sesampai¬nya ke martabat itu manusia terlepas dari keadaan yang menyerupai keadaan hewan hewan lainnya. Dinamai lawwamah karena dia mencela manusia atas keburukannya dan tidak senang kalau manusia bertingkah-laku sewenang-wenang dalam memenuhi keinginan-keinginan thobi’i-nya dan men¬jalani hidup seperti hewan-hewan berkaki empat. Bahkan ia menghendaki supaya manusia menghayati keadaan-keadaan yang baik serta memiliki budi pekerti luhur, dan dalam usaha memenuhi segala keperluan hidupnya manusia jangan sekali pun melakukan pelanggaran, dan ia menghendaki agar perasaan perasaan serta hasrat hasrat thobi’inya diberi penyaluran yang sesuai dengan pertimbangan akal. Jadi, karena dia menyesali tindakan yang buruk, maka ia dinamai nafs lawwamah, yaitu jiwa yang sangat menyesali.
Disisi lain, walaupun nafs lawwamah tidak menyukai dorongan-dorongan thobi’i, bahkan selalu menyesali dirinya sendiri, akan tetapi dalam melaksana¬kan kebaikan kebaikan ia belum dapat menguasai diri sepenuhnya. Kadang-kadang dorongan-dorongan thobi’i mengalahkannya, kemudian ia tergelincir dan jatuh. Bagaikan seorang anak kecil yang lemah, walau¬pun tidak mau jatuh, namun karena lemahnya ia jatuh juga, lalu ia menyesali diri sendiri atas kelemahannya. Ringkasnya, ini merupakan keadaan akhlaki bagi jiwa tatkala di dalam dirinya telah terhimpun akhlak fadhilah (budi pekerti luhur) dan dia sudah jera dari kedurhakaan, akan tetapi belum lagi dapat menguasai diri sepenuhnya.
3. Nafs Muthmainnah
Kemudian ada sumber ketiga yang boleh dikatakan sumber keadaan keadaan rohani. Alquran Suci menyebut sumber ini nafs muthmainnah, sebagaimana dikatakannya:
“Hai jiwa yang tenteram dan mendapat ketenteraman dari Tuhan! Kembalilah kepada Rabb mu! Kamu senang kepada Nya dan Dia senang kepadamu. Maka bergabunglah dengan hamba hamba Ku dan masuklah ke dalam surga Ku”. (Q.S. 89:27 30).
Inilah martabat dimana jiwa manusia memperoleh najah (keselamatan) dari segala kelemah¬an, lalu dipenuhi oleh kekuatan kekuatan rohaniah dan sedemikian rupa melekat jadi satu dengan Allah Ta’ala sehingga ia tidak dapat hidup tanpa Dia. Laksana air mengalir dari atas ke bawah yang karena banyaknya dan tiada sesuatu yang menghambat¬nya, maka air itu terjun dengan deras, begitu pula jiwa manusia tak henti hentinya mengalir terus dan menjurus ke arah Tuhan. Ke arah ini-lah Allah Ta’ala mengisyaratkan, “Hai jiwa yang mendapat ketenteraman dari Tu¬han! Kembalilah kepada-Nya!”
Jadi, inilah tiga keadaan yang dengan kata lain dapat disebut keadaan keadaan thobi’i, akhlaki, dan rohani.
Jika ada pertanyaan, apa pengaruh Alquran Suci terhadap keadaan-keadaan thobi’i manusia, dan bimbingan apakah yang diberi¬kannya dalam hal itu, serta secara amal, sampai batas manakah yang di¬perkenankannya?
Hendaklah diketahui bahwa menurut Alquran Suci keadaan-keadaan thobi’i manusia mempunyai hubungan yang erat sekali dengan keadaan-keadaan akhlaki serta rohaninya. Bahkan, cara manusia makan-minum pun mempengaruhi keadaan keadaan akhlaki dan rohani manusia. Jika keadaan-keadaan thobi’i dipergunakan sesuai dengan bimbingan-bimbingan syariat, maka sebagaimana benda apa pun yang jatuh ke dalam tambang garam akan berubah menjadi garam juga, seperti itu pula semua keadaan tersebut berubah menjadi nilai nilai akhlak dan memberi pengaruh yang mendalam sekali pada kerohanian. Oleh karena itu, Alquran Suci amat memperhati¬kan kebersihan jasmani, tata tertib jasmani, dan keseimbangan jasmani dalam usahanya mencapai tujuan segala ibadah, kesucian batin, ke¬khusyukan, dan kerendahan hati.
Jika kita merenungkan Firman suci Allah ta’ala dan memperhatikan maka di dalam ajarannya terkandung kaidah-kaidah guna perbaikan pada keadaan thobi’i (alamiah), lalu secara perlahan mengangkatnya keatas dan mengantarkannya sampai ke derajat tertinggi kerohanian.
Pertama, Allah berkehendak melepaskan manusia dari cara-cara hewani dengan mengajarkan kepadanya: cara duduk, bangun, makan-minum, bercakap‑cakap dan segala macam tata-cara hidup bermasyarakat. Dan dengan menganugerahkan perbedaan nyata dari kesamaan terhadap hewan, Dia mengajarkan suatu derajat dasar keadaan akhlaki yang dapat dinamakan adab dan tata krama. Kedua, Lalu Dia memberikan keseimbangan pada kebiasaan-kebiasaan alami manusia yang dengan kata lain dapat disebut akhlaq razilah (akhlak rendah), sehingga dengan mencapai keseimbangan itu, ia dapat masuk ke dalam warna akhlaq fadhilah (akhlak tinggi). Akan tetapi, kedua langkah ini, pada hakikatnya sama, sebab bertalian dengan perbaikan keadaan‑keadaan thobi’i. Hanya perbedaan tinggi‑rendah sajalah yang menjadikannya dua macam. Dan Sang Maha Bijaksana telah mengemukakan tatanan akhlak dengan cara demikian sehingga melaluinya manusia dapat maju dari akhlak rendah mencapai akhlak tinggi. Ketiga, Dan selanjutnya Dia telah menetapkan tingkat kemajuan ketiga, yakni manusia tenggelam dalam kecintaan dan keridho­an Sang Maha Pencipta‑nya Yang Hakiki, serta segenap wujud­nya menjadi milik Allah. Inilah suatu tingkat yang untuk mengingatkannya, maka agama orang-orang Muslim telah diberi nama Islam. Sebab, yang disebut Islam ialah penyerahan diri secara sempurna kepada Tuhan dan tidak menyisih­kan sesuatu bagi dirinya sendiri. (lih. Qs. 2: 112, 6:162-164, 3:31)
Menurut Alquran suci, keadaan thobi’i (alami) manusia yang bersumber dan berpangkal dari nafs ammarah itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan‑keadaan akhlaki. Keadaan-keadaan alami itu apabila dikendalikan oleh kemauan tertentu serta menggunakan pertimbangan akal menyesuaikan dengan situasi dan kondisi, maka keadaan-keadaan alami itu akan berubah coraknya menjadi nilai akhlak. Begitu pula keadaan-keadaan akhlaki bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan-keadaan rohani. Melainkan keadaan-keadaan akhlaki itulah yang dengan menghilangkan diri sepenuhnya dalam wujud Allah serta membersihkan diri serta memutuskan segala hubungan hanya untuk Allah – akan mengambil corak kerohanian.
Jadi selama selama keadaan alamiah kita tidak beralih kepada warna akhlak selama itu manusia tidak layak mendapat pujian, sebab keadaan alami juga terdapat pada hewan-hewan bahkan tumbuhan.  Begitu pula dengan hanya memiliki sifat akhlak saja manusia tidak akan dapat menghayati kehidupan rohani. Sebab keadaan itu juga dimiliki oleh orang-orang yang tidak mengenal Tuhan sekalipun, yang  juga memperlihatkan budipekerti yang baik. Orang yang jahat bahkan binatang sekalipun memiliki juga sifat-sifat semacam itu. Sebagian kita dapati ada sebagian orang karena dasar kasih sayang dan kesantunan tidak tega membunuh binatang, tidak mau makan atau memakai sesuatu yang darinya telah mengorbankan nyawa binatang.
Kita mengakui semua hal itu, akan tetapi kita tidak sekali-kali dapat mengakui bahwa semua keadaan alami itu dapat disebut akhlak, atau hanya dengan cara-cara itu sendiri dapat membersihkan kotoran-kotoran batin yang merintangi jalan untuk berjuma dengan zat Allah Ta’ala. Atau keadaan itu dapat menjadi sarana untuk mencapai derajat perikemanusiaan yang tinggi, sebab sikap dan keadaan serupa itu dimiliki oleh binatang berkaki empat yang bahkan sedikit lebih maju tingkatannya.
Tingkat kerohanian itu sebenarnya diperoleh melalui penggunaan setiap kodrat menurut keadaan serta kesempatan pada tempatnya, dan dengan melangkah dengan setia pada jalan Allah dan menyerahkan diri kepada kehendak-Nya. Adapun tanda orang yang menyerahkan diri kepada Tuhan itu ialah, ia tidak dapat menjalani hidup tanpa Dia. Seorang arif adalah ibarat seekor ikan yang disembelih dengan tangan Tuhan; seekor ikan yang hidup di perairan cinta Ilahi.

Read More

Menghadapi Keluhan Orang Lain

12:48 AM |

Mengeluh itu biasa dalam kehidupan sehari-hari. Mengeluh seringkali
merupakan pertanda tersumbatnya energi positif untuk melakukan suatu
tindakan. Orang yang mengeluh biasanya tidak tahu harus melakukan apa. Tapi ada juga orang yang suka mengeluh. Mengeluh menjadi sebuah kebiasaan. Ada saja yang mereka keluhkan, termasuk hal-hal kecil yang semestinya bisa mereka atasi. Orang seperti ini sebenarnya telah menyumbat energi positif mereka dengan energi negatif, seperti kemalasan, kebosanan atau keengganan.

Terlepas dari semua itu, pada saatnya kita akan didatangi oleh seseorang dengan segudang keluhannya. Mungkin orang yang paling banyak kita dengar keluhannya adalah pasangan kita, anak, saudara atau orang tua kita, kemudian rekan kerja, bawahan, bahkan atasan dan tetangga. Bahkan, boleh jadi kita akan mendengar keluhan dari orang-orang baru tidak kita kenal, seperti, dalam kendaraan, di pasar, atau dimana pun. Jangan berkecil hati, pahami saja, mengeluh itu jauh lebih mudah ketimbang melakukan tindakan. Hadapi saja pengeluh-pengeluh itu. Berikut ada beberapa tips yang mudah-mudahan
berguna bagi anda saat menghadapi keluhan orang lain.

1--Mengapa tidak menjadi seorang yang lebih bijak?

Mendengar keluhan seringkali menyebalkan, karena kita sendiri mungkin
mempunyai keluhan yang lebih banyak. Namun, jangan keburu mengacuhkan
keluhan orang lain. Coba renungkan, mengapa seseorang mengeluh pada anda?
Bukankah itu pertanda bahwa ia mempercayai anda. Tidakkah sebaiknya kita mencoba bersikap lebih bijak dengan memperhatikan keluhan tersebut.

2--Perhatikan dan dengarkan keluhan.

Pasti ada sesuatu yang patut anda perhatikan di balik puluhan keluhan yang mengalir dari ucapan seseorang. Dari ribuan keluhan, mungkin ada satu dua yang memang benar adanya. Memang lebih banyak keluhan yang bisa dilupakan begitu saja. Namun, dengan memperhatikan keluhan orang lain anda mengasah kepekaan terhadap perasaan orang lain.

3--Menghargai perasaan orang lain.

Hadapi keluhan orang lain dengan mencoba menghargai perasaan mereka. Tidak udah memang memahami perasaan orang lain, namun jika anda cukup peka anda bisa menumbuhkan empati anda terhadap mereka.

4--Jangan berpura-pura memperhatikan.

Tapi jangan berpura-pura memperhatikan. Jika anda yakin bahwa keluhan mereka patut diperhatikan, berikan perhatian yang tulus. Dengarkan dengan seksama, balas tatapan mata mereka untuk menunjukkan bahwa anda sungguh-sungguh memperhatikan, berikan sedikit sentuhan untuk menyatakan ketulusan anda.

5--Tak harus memberikan nasihat.

Adakalanya seseorang mengeluh, dan tidak bermaksud mencari nasehat. Mereka hanya ingin didengarkan. Persiapkan diri anda untuk tidak memberikan nasehat. Anda takkan sungguh-sungguh tahu apa yang dialami dan bagaimana mengatasinya. Cukup tunjukkan bahwa anda mengerti akan keluhan mereka.

6--Lepaskan sumbat energi positifnya.

Namun jika anda tahu apa yang sesungguhnya sedang dihadapi oleh sang
pengeluh, dan anda tahu bagaimana sebaiknya menghadapi, ada baiknya anda memberikan saran. Semua itu harus bertujuan untuk menyingkirkan energi negatif yang menyumbat energi positifnya. Namun, sesungguhnya jarang kita benar-benar memahami apa yang terjadi. Hanya berikan saran dan nasehat jika diminta.

7--Jika anda tak punya cukup waktu...

Anda tahu anda harus memperhatikan keluhan mereka, namun anda tak punya cukup waktu. Usahakan anda tetap menerima keluhan mereka, namun dengan sungguh-sungguh katakan bahwa anda tak punya waktu. Janjikan padanya waktu senggang dimana anda bisa menerima keluhan mereka.

8--Jika keluhan itu sudah menjadi pengganggu...

Jika si pengeluh ternyata hanya menghabiskan waktu anda, maka jangan ragu untuk mengatakan bahwa anda tak punya waktu untuk keluhan itu. Tunjukkan kepada siapa ia seharusnya mengadukan keluhannya. Ini perlu anda keluhkan, agar anda tidak perlu mengeluh setelah itu.

Sumber: Menghadapi Keluhan Orang Lain
Read More

Membangun Motivasi dalam Diri

12:39 AM |

Cita-cita atau tujuan hidup ini hanya bisa diraih jika Anda memiliki
motivasi yang kuat dalam diri Anda. Tanpa motivasi apa pun, sulit sekali
Anda menggapai apa yang Anda cita-citakan. Tapi tak dapat dipungkiri, memang
cukup sulit membangun motivasi di dalam diri sendiri. Bahkan, mungkin Anda
tidak tahu pasti bagaimana cara membangun motivasi di dalam diri sendiri.
Padahal, sesungguhnya banyak hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan
motivasi tersebut. Caranya...? coba simak kiat berikut ini:

Ciptakan Sensasi
----------------

Ciptakan sesuatu yang dapat "membangunkan" dan membangkitkan gairah Anda
saat pagi menjelang. Misalnya, Anda berpikir esok hari harus mendapatkan
keuntungan 1 milyar rupiah. Walau kedengarannya mustahil, tapi sensasi ini
kadang memang semangat Anda untuk berkarya lebih baik lagi melebihi apa yang
sudah Anda lakukan kemarin.

Kembangkan Terus Tujuan Anda
----------------------------

Jangan pernah terpaku pada satu tujuan yang sederhana. Tujuan hidup yang
terlalu sederhana membuat Anda tidak memiliki kekuatan lebih.
Padahal, guna meraih sesuatu Anda memerlukan tantangan yang lebih besar
untuk mengerahkan kekuatan Anda yang sebenarnya. Tujuan hidup yang besar
akan membangkitkan motivasi dan kekuatan tersendiri dalam hidup Anda.

Tetapkan Saat Kematian

----------------------

Anda perlu memikirkan saat kematian meskipun gejala ke arah itu tidak dapat
diprediksikan. Membayangkan saat-saat terakhir dalam hidup ini sesungguhnya
merupakan saat-saat yang sangat sensasional.
Anda dapat membayangkan 'flash back' dalam kehidupan Anda. Sejak Anda
menjalani masa kanak-kanak, remaja, hingga tampil sebagai pribadi yang
dewasa dan mandiri. Jika Anda membayangkan 'ajal' Anda sudah dekat, maka
akan memotivasi Anda untuk berbuat lebih banyak lagi selama hidup Anda.

Tinggalkan Teman yang Tidak Perlu

---------------------------------

Jangan ragu untuk meninggalkan teman-teman yang tidak dapat mendorong Anda
mencapai tujuan. Sebab, siapa pun teman Anda, seharusnya mampu membawa Anda
pada perubahan yang lebih baik.
Ketahuilah, bergaul dengan orang-orang yang optimis akan membuat Anda
berpikir optimis pula. Bersama mereka, hidup ini terasa lebih menyenangkan
dan penuh motivasi.

Hampiri Bayangan Ketakutan
--------------------------

Saat Anda dibayang-bayangi kecemasan dan ketakutan, jangan melarikan diri
dari bayangan tersebut. Misalnya, selama ini Anda takut akan menghadapi masa
depan yang buruk. Datang dan nikmati rasa takut Anda dengan mencoba
mengatasinya. Saat Anda berhasil mengatasi rasa takut, saat itu Anda telah
berhasil meningkatkan keyakinan diri bahwa Anda mampu mencapai hidup yang
lebih baik.

Ucapkan "Selamat Datang" pada Setiap Masalah

--------------------------------------------

Jalan untuk mencapai tujuan tidak selamanya semulus jalan tol. Suatu saat,
Anda akan menghadapi jalan terjal, menanjak, dan penuh bebatuan. Jangan
memutar arah untuk mengambil jalan pintas. Hadapi terus jalan tersebut dan
pikirkan cara terbaik untuk bisa melewatinya. Jika Anda memandang masalah
sebagai sesuatu yang mengerikan, Anda akan semakin sulit termotivasi.
Sebaliknya, bila Anda selalu siap menghadapi setiap masalah, maka Anda
seakan memiliki energi dan semangat berlebih untuk mencapai tujuan Anda.

Mulailah dengan Rasa Senang
---------------------------

Jangan pernah merasa terbebani dengan tujuan hidup Anda. Coba nikmati hidup
dan jalan yang Anda tempuh. Jika sejak awal Anda sudah merasa 'tidak suka',
maka rasanya, motivasi hidup tidak akan pernah Anda miliki.

Berlatih dengan Keras
---------------------

Tidak bisa tidak, Anda harus berlatih terus bila ingin mendapatkan hasil
terbaik. Pada dasarnya, tidak ada yang tidak dapat Anda raih jika Anda terus
berusaha keras. Semakin giat berlatih, semakin mudah pula mengatasi setiap
kesulitan.

Kesimpulannya, motivasi adalah 'sesuatu' yang dapat menumbuhkan semangat
Anda dalam rangka mencapai tujuan. Dengan motivasi yang kuat di dalam diri
sendiri, Anda akan memiliki apresiasi dan penghargaan yang tinggi terhadap
diri dan hidup ini. Sehingga Andapun tidak ragu lagi melangkah mencapai
tujuan dan cita-cita hidup Anda..!

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Read More

Hal Kecil yang 'Memangkas' Waktu Anda

12:25 AM |

'Time is money', 'waktu adalah uang'. Ungkapan ini pas banget bagi anda yang
setiap harinya diburu-buru pekerjaan dan 'deadline'. Apa hubungannya ?
Iya soalnya anda dibayar alias digaji atas waktu yang anda gunakan untuk
bekerja di kantor. Karena nggak mungkin juga kan kalo anda makan 'gaji
buta'? Makanya setiap detik di kantor adalah waktu yang sangat berharga.

Untuk itu anda perlu memanfaatkan waktu di kantor seefektif mungkin. Tapi
masalahnya, kadang anda tidak menyadari ada hal-hal kecil yang ternyata
cukup mengganggu waktu anda dalam menyelesaikan 'kerjaan'. Tau nggak apa aja
sih hal kecil yang mengganggu itu? Di bawah ini adalah daftar hal-hal kecil
yang 'berpartisipasi' dalam memangkas waktu kerja dan menghambat selesainya
pekerjaan anda :

* Telepon
Banyaknya telepon masuk untuk bicara dengan anda, mau nggak mau akan
mengurangi kualitas waktu anda dalam bekerja. So, bersikaplah selektif dalam
menerima telepon. Jangan menerima telepon-telepon tidak penting yang datang
dari teman-teman anda. Sibuk berhaha hihi di telepon dengan teman kadang
membuat anda lupa waktu dan membuat pekerjaan anda 'terbengkalai'.
Untuk itu, pesankan pada operator untuk menyeleksi telepon yang penting dan
tidak penting. Mungkin untuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, anda
bisa menerimanya.

* Ponsel
Jika anda sedang membutuhkan konsentrasi penuh dalam menyelesaikan
pekerjaan, misalnya anda sedang dikejar target dan 'deadline', lebih baik
matikan saja ponsel anda. Untuk mengantisipasi hal-hal yang penting,
sebaiknya aktifkan 'voice mail' di ponsel anda.

* Email
Jangan membuang-buang waktu hanya untuk membalas email-email tak penting.
Begitu tau email itu tak ada hubungannya dengan pekerjaan, lewatkan saja.
Anda baru bisa melakukannya jika waktu anda cukup luang.

* Makan siang terlalu lama
Umumnya waktu istirahat makan siang adalah satu jam. Tapi kadang, waktu satu
jam itu terasa kurang karena waktu makan siang sering dijadikan 'moment'
untuk 'ngobrol' dengan rekan-rekan kantor anda. Hingga tak jarang, waktu
satu jam itu molor sampai 30 menit bahkan satu jam dari waktu yang
ditentukan. Tentu saja waktu anda bekerja banyak berkurang hanya untuk
kepentingan 'ngobrol'. Ingatkan diri anda sendiri untuk segera beranjak dari
acara makan siang begitu anda selesai makan. Memang bersosialisasi dan
berinteraksi dengan rekan di lingkungan kantor cukup penting, tapi tentu
saja anda harus tahu batas waktu.

* Ngobrol dengan teman
Jangan sekalipun tergoda menghampiri meja rekan anda ketika anda tengah
membutuhkan konsentrasi. Sebaliknya jika teman anda yang menghampiri meja
anda, katakan saja bahwa anda baru bisa 'ngobrol' di waktu istirahat atau
pulang kantor.

Dengan menghindari gangguan-gangguan di atas, diharapkan anda akan lebih
konsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaan. Dan waktu anda di kantor nggak
sia-sia kan...?

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Read More

Berhenti Menjadi Pengemis

12:14 AM |


Selama ini, saya selalu menyediakan beberapa uang receh untuk
berjaga-jaga kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang
menghampiri. Satu lewat, ku beri, kemudian lewat satu pengemis lagi,
kuberi. Hingga persediaan receh di kantong habis baru lah aku berhenti
dan menggantinya dengan kata "maaf" kepada pengemis yang ke sekian.

Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena memang pertemuan dengan
pengemis juga tidak setiap hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya
seribu rupiah atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung persediaan.

Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya saya merasa bahwa dia
pelit karena saya tidak pernah melihatnya memberikan receh kepada
pengemis. Padahal kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku.
Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah dari gajinya. Tapi
setelah apa yang saya lihat sewaktu kami sama-sama berteduh kehujanan
di Pasar Minggu, anggapan saya itu ternyata salah.

Seorang ibu setengah baya sambil menggendong anaknya menghampiri kami
seraya menengadahkan tangan. Tangan saya yang sudah berancang-ancang
mengeluarkan receh ditahannya. Kemudian Diding mengeluarkan dua lembar
uang dari sakunya, satu lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus
ribu rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga entah apa yang ada di
pikirannya sambil memperhatikan dua lembar uang itu.

"Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, yang seribu rupiah
atau yang seratus ribu?" tanya Diding

Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan memilih yang lebih
besar. Termasuk ibu tadi yang serta merta menunjuk uang seratus ribu.

"Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus dikembalikan. Tapi
kalau ibu pilih yang seratus ribu, saya tidak memberikannya secara
cuma-cuma. Ibu harus mengembalikannya dalam waktu yang kita tentukan,
bagaimana?" terang Diding.

Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk menjawabnya. Terlihat ia
masih nampak bingung dengan maksud sahabat saya itu. Dan,
"Maksudnya... yang seratus ribu itu hanya pinjaman?"

"Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, kalau saya berikan
seribu rupiah ini untuk ibu, paling lama satu jam mungkin sudah habis.
Tapi saya akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu agar esok
hari dan seterusnya ibu tak perlu meminta-minta lagi," katanya.

Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik memberikan pinjaman
uang untuk modal bagi seseorang agar terlepas dari kebiasaannya
meminta-minta. Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan
membuat gado-gado. Di rumahnya ia masih memiliki beberapa perangkat
untuk berjualan gado-gado, seperti cobek, piring, gelas, meja dan
lain-lain.

Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami bersama-sama ke rumah ibu
tadi yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah
reda, dan kami mendapati lingkungan rumahnya yang lumayan ramai. Cocok
untuk berdagang gado-gado, pikirku.

***

Diding sering menyempatkan diri untuk mengunjungi penjual gado-gado
itu. Selain untuk mengisi perutnya -dengan tetap membayar- ia juga
berkesempatan untuk memberikan masukan bagi kelancaran usaha ibu
penjual gado-gado itu.

Belum tiga bulan dari waktu yang disepakati untuk mengembalikan uang
pinjaman itu, dua hari lalu saat Diding kembali mengunjungi penjual
gado-gado. Dengan air mata yang tak bisa lagi tertahan, ibu penjual
gado-gado itu mengembalikan uang pinjaman itu ke Diding. "Terima
kasih, Nak. Kamu telah mengangkat ibu menjadi orang yang lebih terhormat."

Diding mengaku selalu menitikkan air mata jika mendapati orang yang
dibantunya sukses. Meski tak jarang ia harus kehilangan uang itu
karena orang yang dibantunya gagal atau tak bertanggung jawab.
Menurutnya, itu sudah resiko. Tapi setidaknya, setelah ibu penjual
gado-gado itu mengembalikan uang pinjamannya berarti akan ada satu
orang lagi yang bisa ia bantu. Dan akan ada satu lagi yang berhenti
meminta-minta.

Ding, inginnya saya menirumu. Semoga bisa ya.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Read More

Bisnis 100% Tanpa Modal
Submit ExpressSEO Tools